Rabu, 10 Juni 2026

Aksara di Tengah Budaya Dominan: Terpinggirkan dalam Hierarki

Moriyama (1995) menyatakan bahwa tidak adanya pusat budaya dan spiritual yang kuat di Jawa Barat membuat pemerintah kolonial Belanda dapat menerapkan kebijakan bahasa hampir tanpa perlawanan. Melalui kebijakan inilah aksara Sunda secara perlahan diposisikan sebagai aksara yang inferior di kalangan para penuturnya sendiri. Ironisnya, budaya Jawa dan Islam yang masuk ke tanah Sunda akibat dominasi Kesultanan Mataram, telah lebih dulu mengerdilkan aksara dan bahasa Sunda. Sehingga, tak butuh waktu lama bagi masyarakat Sunda melupakan sistem tulisannya sendiri yang begitu unik dan kaya akan kebijaksanaan.


Konstruksi Inferioritas terhadap Aksara Sunda

"...tembey datang na prebeda. Bwana alit sumurup ring ganal, metu sanghara...”


Terjemahan: “...perubahan-perubahan datang sebagai hembusan angin yang lembut, dengan postur yang rendah, [membawa] ancaman, dan kehancuran...” (Naskah Carita Parahyangan, dituliskan dalam aksara Sunda Kuno, dibuat di akhir abad ke-16)

Seperti itulah kekalahan Kerajaan Sunda dari Kesultanan Mataram dan Dekrit Bahasa 1848 yang diterbitkan Kerajaan Belanda menyisihkan aksara Sunda di tanahnya sendiri. Perubahan berlangsung pelan, tanpa konflik terbuka, namun menyebabkan kehancuran yang konkret.

Hingga awal abad ke-16, aksara Sunda masih digunakan secara luas. Namun, Kesultanan Mataram yang membawa budaya Jawa dan agama Islam mamaksa masyarakat Sunda untuk mengadopsi aksara Arab (pegon) yang diajarkan secara masif di langgar dan pesantren. Laporan Landsdrukkerij (AVSS 1857:12) mencatat sebanyak 5.128 murid mengisi 224 pesantren di Priangan, menunjukkan imperialisme budaya yang nyata. Sementara itu, kalangan elit (ménak) menyesuaikan diri dengan penguasa baru dan mulai berkomunikasi dalam bahasa serta aksara Jawa.

Keterpinggiran aksara dan bahasa Sunda sudah kukuh ketika Inggris dan Belanda menduduki Nusantara di abad ke-18. Saking langkanya penggunaan aksara Sunda di Priangan, pemerintah kolonial bahkan tidak menyadari kebaradaan aksara tersebut pada awalnya. Bahasa Sunda pun hanya dianggap sebagai salah satu dialek ‘Jawa gunung’ yang dituturkan oleh bergjavanen (orang Jawa gunung) (Moriyama, 1995).

Dekrit Bahasa 1848 yang Menenggelamkan Aksara Sunda

Nasib aksara Sunda kian memburuk ketika Kerajaan Belanda mengeluarkan dekrit kebijakan bahasa pada 1848. Melalui kebijakan ini, pemerintah kolonial memulai program pendirian sekolah pertama bagi masyarakat Jawa dan Sunda: pada 1851 didirikan Sekolah Pelatihan Guru di Surakarta untuk masyarakat Jawa, dan di tahun yang sama sekolah dasar bagi orang Sunda dibuka di Cianjur.

Pada awalnya, bahasa Sunda diakui dan digunakan sebagai bahasa ibu untuk mengajar di sekolah-sekolah Belanda. Buku-buku berbahasa Sunda dan Melayu digunakan sebagai bahan ajar. Seiring waktu, bahasa Melayu dipromosikan sebagai lingua franca dan aksara Latin sebagai medium utama di sekolah, administrasi, dan media cetak. Bahkan, semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin sedikit bahasa Sunda digunakan. Moriyama (1995) berargumen, hal ini dilakukan pemerintah kolonial karena alasan praktis: buku beraksara Latin jauh lebih murah dicetak karena lebih hemat ruang dibandingkan aksara Sunda.

Dari situ, buku beraksara Sunda pun semakin jarang dicetak karena semakin sedikit yang mampu membacanya. Pada periode 1860-an hanya ditemukan 11 buku beraksara Sunda, itu pun dicetak dua sisi dengan aksara Latin. Dengan berdirinya Commissie voor de Inlandsche School- en Volkslectuur, Belanda memperketat kebijakan percetakan sehingga buku berbahasa Sunda sulit ditemukan di luar Batavia pada paruh kedua abad ke-19.

Polyglossia dan Hierarki Bahasa

Moriyama (1996) berpendapat, sebenarnya masyarakat Sunda sendiri tidak memiliki kebanggaan atas aksaranya. Itulah kenapa mereka mudah mengadopsi aksara Jawa dan aksara Arab untuk berkomunikasi dalam bahasa Sunda. Maka ketika aksara Latin dipaksakan oleh Belanda, tidak sulit pula bagi mereka untuk menerimanya. Namun, ketidakbanggaan itu bukan muncul di ruang hampa. Ia lahir dari situasi yang disebut polyglossia, yaitu kondisi ketika beberapa bahasa hadir secara hierarkis dalam satu sistem budaya.

Sebelum Belanda datang, masyarakat Sunda menggunakan bahasa berbeda karena alasan praktis: Arab untuk agama, Jawa untuk komunikasi elit dan administrasi, Melayu untuk hubungan luar. Pilihan bahasa bersifat praktis dan situasional.

Memasuki masa kolonial, situasi berubah. Bahasa-bahasa itu tidak lagi sekadar digunakan, tetapi dibanding-bandingkan dan diberi kedudukan yang berbeda. Bahasa Jawa diagungkan sebagai bahasa penguasa. Bahasa Melayu dipandang lebih luas jangkauannya. Bahasa Belanda dikukuhkan sebagai sesuatu yang modern dan berstandar tinggi. Di tengah perbandingan itu, bahasa Sunda terus-menerus terlihat dikecilkan, dilokalkan, dan dikesampingkan. Seperti pemeran figuran yang hadir dan hilangnya tidak begitu penting.

Masyarakat Sunda akhirnya melihat bahasa mereka sendiri dari kaca mata orang lain dan merasa rendah diri. Polyglossia, dengan kata lain, mengubah cara mereka memandang diri sendiri.

Jejak Kejayaan dan Kekayaan Aksara Sunda di Masa Lampau

Dalam The History of Java (1817), Sir Thomas Stamford Raffles menilai bahwa bahasa Sunda bisa jadi merupakan salah satu bahasa vernakular tertua di Indonesia. Menurut Noviana, aksara Sunda berasal dari tradisi aksara Late Southern Brahmi (Griffiths and Lammerts, 2015), berkembang melalui Kawi Kuno, kemudian Kawali, hingga menjadi aksara Sunda kuno. Hanya dalam empat hingga enam abad masyarakat Sunda membentuk aksaranya sendiri, proses yang jauh lebih cepat dibandingkan perkembangan hieratik ke demotik di Mesir yang memakan waktu seribu tahun. Kecepatan ini mencerminkan tingginya intensitas penggunaan aksara tersebut dan tingkat literasi yang mapan di kalangan penuturnya. Sebagai perbandingan, masyarakat Sunda pada periode yang sama juga menggunakan aksara Kawi, tetapi ia tidak mengalami perkembangan berarti karena digunakan terbatas pada teks religius.

Noviana (2020) berpendapat bahwa budaya literasi pada masyarakat Sunda kuno sangat berkembang dan inklusif. Teks Sewaka Darma ditulis oleh seorang perempuan, dan teks Bujangga Manik, Sanhyan Siksa Kandan Karesian, serta Sanhyan Sasana Maha Guru menyebut keberadaan rahib perempuan (“ebon” atau “tiagy”). Kawih Pangeuyeukan juga menggambarkan ritual menenun yang sakral dan khusus dilakukan perempuan secara terperinci. Hal ini, menunjukkan akses perempuan Sunda terhadap literasi dan peran spiritual, kontras dengan mereka di kebudayaan Jawa dan Bali yang lebih banyak diceritakan sebagai objek seksual dan berperan di ranah prokreasi semata dalam naskah-naskah kuno Nusantara.

Memulangkan Aksara Sunda dari Pengasingan

Ironi terbesar dari sejarah ini adalah bahwa aksara yang mati bukan karena tidak pernah digunakan, melainkan karena para penuturnya perlahan dibuat lupa akan nilainya. Kebijakan kolonial, alasan praktis percetakan, dan dominasi budaya asing bersekutu untuk menanamkan apatisme di tanah kelahiran aksara itu sendiri. Ketika sebuah masyarakat kehilangan kebanggaan terhadap warisan tulisannya, aksara itu tidak perlu dihancurkan; ia akan layu dan mati dengan sendirinya. Padahal, seperti yang ditunjukkan oleh naskah-naskah kuno, aksara Sunda bukanlah aksara pinggiran. Ia adalah aksara yang hidup, dinamis, dan digunakan oleh semua lapisan.

Pelestarian aksara Sunda bukanlah pemeliharaan barang antik, melainkan usaha menghidupkan identitas etnis dan menggali worldview yang terkubur oleh tekanan sejarah. Penggunaan aksara Sunda dalam medium modern dan produksi karya sastra akan menjaganya tetap hidup secara kreatif dan kekinian. Relasi kuasa antara bahasa dan aksara Sunda, Jawa, serta Melayu di masa lalu pun harus diajarkan di sekolah-sekolah untuk menumbuhkan kembali kebanggaan yang dulu dipatahkan.


Daftar Pustaka

AVSS. Afgesloten onder ultimo 1855. b. voor Inlanders. 1857. Batavia: Landsdrukkerij.

Moriyama, Mikihiro. (1995). Language Policy in the Dutch Colony: On Sundanese in the Dutch East Indies. Kyoto University: Southeast Asian Studies, VoL 34, No. 1, June1996.

Moriyama, Mikihiro. (1996). Discovering the 'Language' and the 'Literature' of West Java: An Introduction to the Formation of Sundanese Writing in 19th Century West Java. Kyoto University: Southeast Asian Studies, Vol. 34, No. 1, June 1996.

Noviana, Eka. (2020). The Sundanese Script: Visual Analysis of its Development into a Native Austronesian Script. Braunschweig: Institut für Medienforschung Hochschule für Bildende Künste.

Sasmita, Citra. “Timur Merah Project: A Pilgrimage of Narrative, Memory, and Historical Legacy” The Jugaad Project, 3 September 2022, www.thejugaadproject.pub/timur-merah [Diakses pada 23 February 2026]


Karangan ini ditulis oleh Riska Ayu Eka Putri

Jumat, 01 Mei 2026

25 Pepatah Makassar dengan Arti dan Aksara Lontara I

Peribahasa atau pepatah merupakan bagian penting dari budaya dan tradisi masyarakat Makassar di Indonesia. Peribahasa Makassar memuat kekayaan ungkapan, kebijaksanaan, dan nilai-nilai budi pekerti yang diajarkan turun-temurun. Melalui peribahasa, orang Makassar mampu menjaga dan melestarikan gagasan dalam kebudayaan mereka, serta mendapatkan pengetahuan dari pengalaman masa lalu untuk diterapkan di kehidupan sehari-hari. Mari kenali 25 pepatah atau peribahasa Makassar berikut ini.


ᨒᨙᨒᨙᨅᨘᨒᨘᨈ​ᨒᨙᨒᨙᨀ​ᨅᨗᨕ​ᨔ​

Lele bulu tallele kabiasang.
Berubah bulu, tidak akan berubah kebiasaan.
Kebiasaan, khususnya yang buruk, sulit diubah.


ᨅ​ᨍᨗᨅᨗᨑᨗᨈ​ᨊ​ᨈ​ᨔ​ᨅ​ᨍᨗᨑᨘᨄ​ᨊ​ᨁᨕᨘᨀ​

Bajik birittana tasambajik rupanna gauka.
lndah berita, tetapi tidak seindah buktinya.
Ada kalanya berita atau omongan yang kita dengar itu sudah ditambah-tambahi dari hal yang sesungguhnya terjadi.


ᨍᨙᨊᨙᨀ​ᨌᨗᨊᨗᨕᨗᨕ​ᨈᨚᨍ​ᨊ​ᨊᨕᨗᨕᨗᨕ​ᨈᨚᨍ​ᨊ​ᨊᨕᨘ

Jekneka cinik ia tonja nanaik ia tonja nanaung.
Lihatlah air ada saatnya pasang dan ada saatnya pula surut.
Keadaan dalam hidup yang kadang suka dan kadang duka.


ᨍ​ᨑᨘᨊ​ᨅᨚᨐ​ᨄ​ᨀᨘᨒᨘᨈ​ᨄᨙᨒᨒ​

Jarung naboya pangkuluk tappelak.
Jarum dicari, kapak hilang.
Seseorang yang menginginkan sesuatu yang kecil malah kehilangan yang besar.


ᨆ​ᨊ​ᨈᨘ​ᨉᨚᨀᨚᨄ​ᨉ​ᨄᨘᨊ​ᨔᨗᨆ​ᨈ​ᨊᨗᨀᨈᨗᨔᨗᨍ​ᨈ​ᨑ​ᨈ​ᨍᨗ

Mannantu dongkok pakdang punna simata nikantisikja tarang tonji.
Walaupun punggung pedang asalkan diasah terus akhirnya akan tajam juga.
Orang yang bodoh pun jika rajin belajar kelak akan pandai juga.


ᨈᨕᨘᨀ​ᨄ​ᨒ​ᨒᨙᨀᨚᨈᨚᨒᨗᨊ​

Tau kapalak lekok tolinna.
Orang tebal daun telinganya.
Orang tahan terhadap sindiran atau olok-olok orang lain.


ᨈᨙᨊ​ᨄ​ᨀᨊᨘᨀᨘᨊ​ᨊᨕᨙᨑᨚᨆᨚᨕ​ᨂᨑ​ᨆᨘᨔᨘ

Tenapa kanukunna naerokmo anngarakmusuk.
Belum berkuku sudah mau menggaruk.
Orang yang belum memiliki kuasa, tetapi sudah berani menindak orang lain.


ᨀ​ᨈᨗᨂᨒᨚᨆ​ᨈᨙᨑᨗᨈ​ᨄ​ᨑ​ᨂᨊ​ᨊᨕ​ᨑ​ᨈᨙᨉᨚᨆ​ᨈᨙᨑᨗᨕᨙᨅ​ᨊ​ᨊ​ᨈ​ᨊᨕ​ᨑ​

Katingalo mate ri tamparanga na naarak, tedong mate ri embana na tanaarak.
Lalat mati di laut dirasa, kerbau mati di halaman rumahnya tidak dirasa.
Seseorang yang mengawasi dan mengumbar dan kejelekan orang lain, sedangkan kejelekannya sendiri tidak diketahui.


ᨊᨗᨑᨄᨂᨗᨁᨚᨒᨊᨊᨗᨈᨅᨕᨗᨉᨉᨗ

Nirapangi golla na nitambai dadik.
Ibarat gula ditambah pula dengan susu.
Orang yang sudah baik dan masih mempunyai kelebihan sifat-sifat baik lainnya.


ᨕᨈᨆᨕᨗᨈᨒᨘᨕᨔᨘᨒᨘᨀᨗᨕᨄ

Antamai tallu, assuluki appak.
Masuk tiga, keluar empat.
Pengeluaran lebih besar daripada pendapatan.


ᨅᨍᨗᨀᨂᨂᨗᨈᨈᨗᨒᨗᨂᨊᨕᨗᨕᨈᨒᨂ

Bajikangangi tattilinga naia tallanga.
Lebih baik miring daripada tenggelam.
Lebih baik rugi daripada kehilangan seluruhnya.


ᨈᨙᨊᨊᨒᨑᨗᨈᨄᨑᨂ

Tena nalari tamparanga.
Laut tidak akan lari.
Jangan tergesa-gesa dalam mengerjakan sesuatu.


ᨀᨘᨕᨒᨙᨕᨂᨗᨈᨒᨂᨊᨈᨚᨕᨒᨗᨕ

Kualleangi tallanga na toalia.
Lebih baik tenggelam daripada surut kembali.
Pantang menyerah sebelum meraih apa yang dicita-citakan.


ᨀᨆᨈᨚᨂᨗᨈᨕᨘᨕᨂᨘᨀᨗᨑᨗᨀᨑᨗᨍᨙᨊᨙᨀ

Kamma tongi tau anngukirika ri jekneka.
Seperti orang menulis diatas air.
Melakukan perbuatan yang sia-sia.


ᨄᨊᨙᨕᨒᨙᨌᨗᨊᨗᨑᨗᨄᨆᨈᨂᨊᨅᨗᨕᨔᨈᨚᨍᨗᨕᨈᨘᨔᨗᨁᨙᨈᨚᨁᨙᨈᨚ

Panne alle cinik ri pamantanganna biasa tonji antu sigentok-gentok.
Perhatikanlah piring di tempatnya sering pula berbenturan.
Pasangan suami istri yang rukun sekalipun suatu waktu akan merasakan perselisihan.


ᨕᨆᨚᨈᨙᨑᨙᨀᨗ ᨅᨚᨔᨗᨕ ᨊᨕᨗ ᨄᨚᨒᨙ ᨑᨗ ᨒᨂᨗᨀ

Ammotereki bosia naik pole ri langika.
Hujan kembali lagi ke langit.
Keadaan yang terbolak-balik, seperti orang kaya meminta bantuan kepada orang miskin, orang pintar meminta nasehat pada orang bodoh.


ᨀᨚᨈᨘᨕᨗᨍᨙᨊᨙᨔᨗᨆᨈᨆᨔᨚᨒᨚᨊ

Kontui jeknek simata massolonna.
Bagaikan air yang selalu mengalir.
Orang yang senantiasa memberi pertolongan.


ᨈᨀᨘᨒᨙᨕᨕᨗᨊᨗᨈᨁᨒᨈᨕᨘᨈᨕᨘᨊ

Takkulleai nitakgalak taun-taunna.
Tidak dapat ditangkap bayangannya.
Orang yang pandai bicara dan pandai mencari alasan.


ᨕᨒᨒᨑᨗᨕᨉᨔᨗᨕᨁᨑᨗᨔᨑ

Aklaklang ri adak siagang ri sarak.
Bernaung pada adat dan agama.
Sesuai dengan aturan adat dan agama (syariat).


ᨀ​ᨆ​ᨈᨚᨂᨗᨒᨙᨀᨚᨀ​ᨐᨘᨊᨕᨗᨑᨗᨀᨕ​ᨂᨗ

Kamma tongi lekok kayu nairika anging.
Bagaikan daun yang tertiup angin.
Seseorang yang patuh menjalankan perintah.


ᨊᨗᨕᨙᨅ​ᨑ​ᨀᨗ ᨀ​ᨑᨙᨀ​ᨑᨙᨕ ᨌᨘᨌᨘᨑᨘ ᨅ​ᨐᨕᨚᨊ​

Niebaraki kanre-kanreang cucuruk bayaona.
Ibarat makanan, ia adalah kue cucur telur.
Seseorang yang sempurna, seperti rupawan, kaya, dermawan, baik hati, dsb.


ᨕ​ᨒ​ᨒ ᨑᨗ ᨕ​ᨉ ᨔᨗᨕ​ᨁ ᨑᨗ ᨔ​ᨑ​

Aklaklang ri adak siagang ri sarak.
Bernaung pada adat dan agama.
Tidak menyalahi ketentuan adat dan agama.


ᨈᨕᨙᨊ ᨊ​ᨔ​ᨑ ᨕ​ᨒᨚᨕ ᨑᨗ ᨈ​ᨂᨊ ᨒ​ᨂᨗᨀ​

Taena nasakrak alloa ri tanngana langika.
Tidak akan terbenam matahari di tengah langit.
Seseorang tidak akan meninggal jika belum waktunya.


ᨊᨗᨕᨙᨅ​ᨑ​ᨀᨗ ᨍᨙᨊᨙ ᨊ ᨍᨘᨀᨘ ᨒ​ᨒᨚᨊ​

Niebaraki jeknek na jukuk lalona.
Ibarat air dengan ikan.
Pasangan yang sangat serasi.


ᨈᨕᨘ ᨈ​ᨊᨗᨕ​ᨀ ᨊ​ᨊᨗᨑᨘᨅᨘᨕᨗ ᨕᨘᨅᨙ ᨄᨙᨄᨙ

Tau taniakka nanirumbui umbe pepek.
Orang yang tidak pernah terkena asap.
Seseorang yang tidak pernah memasak di dapur karena sudah memiliki banyak pembantu yang bekerja untuknya, maksudnya orang kaya yang hidup nyaman dan mewah.

Kamis, 19 Maret 2026

Lirik Lagu Lamunan: Aksara Jawa dan Terjemahan Bahasa Indonesia

Lamunan merupakan salah satu lagu Jawa yang paling banyak didengarkan baru-baru ini. Lagu ini diciptakan oleh Wahyu F. Giri yang dirilis sebagai singgel pada Januari 2024. Lagu yang mengesankan kerinduan terhadap kekasih ini memiliki lirik yang puitis dan pilihan kata bahasa Jawa yang indah dan sastrawi. Berikut lirik Lamunan berserta aksara Jawa dan terjemahan bahasa Indonesia versi yang dinyanyikan oleh Niken Salindry.


ꦥꦶꦤ꧀ꦝ​ꦱꦩꦸꦢꦿ​ꦥꦱꦁ​​ꦏꦁ​​ꦠꦤ꧀ꦥ​ꦮꦔꦼꦤ꧀ꦤꦤ꧀꧉
Pindhå samudrå pasang kang tanpå wangenan
Bagaikan samudra pasang tiada akhir

ꦠꦽꦱ꧀ꦤꦏꦸ​ꦩꦿꦶꦁ​​ꦱ꧀ꦭꦶꦫꦩꦸ​ꦱꦪꦁ​꧉
Tresnaku mring sliramu, Sayang
Cintaku kepadamu, Sayang

ꦕꦲꦾꦤꦶꦁ​​ꦧꦸꦭꦤ꧀ꦏꦁ​​ꦱꦸꦩꦸꦤꦂ​ꦲꦧꦾꦺꦴꦂ​ꦲꦶꦁ​​ꦠꦮꦁ​꧉
Cahyaning mbulan kang sumunar abyor ing tawang
Cahaya rembulan yang memancar gemerlap di langit

ꦪꦼꦏ꧀ꦠꦶ​ꦱ꧀ꦭꦶꦫꦩꦸ​ꦏꦁ​​ꦢꦢꦶ​ꦭꦩꦸꦤ꧀ꦤꦤ꧀꧉
Yekti sliramu kang dadi lamunan
Sungguhlah dirimu yang menjadi lamunan


ꦱꦸꦩꦿꦶꦧꦶꦢ꧀ꦲꦔꦶꦤ꧀ꦫꦠꦿꦶꦠꦤ꧀ꦱꦃꦲꦔꦤ꧀ꦛꦺꦤꦶ꧉​
Sumribid angin ratri tansah hanganthèni
Semilir angin malam senantiasa menemani

ꦱꦺꦠꦾ​ꦤꦿꦗꦁ​​ꦠꦼꦊꦁ​ꦔꦶꦁ​​ꦲꦠꦶ꧉
Setyå nrajang telenging ati
Setia menerjang kekasih hati

ꦲꦔꦼꦤ꧀ꦲꦔꦼꦤ꧀ꦠꦸꦩ꧀ꦭꦮꦸꦁ​​ꦱꦸꦮꦸꦁ​ꦲꦶꦁꦮꦼꦔꦶꦱꦼꦥꦶ꧉
Angen-angen tumlawung suwung ing wengi sepi
Angan-angan bergema sunyi di sepinya malam

ꦠꦤ꧀ꦱꦃ​ꦲꦔꦿꦤ꧀ꦠꦶ​ꦠꦼꦏꦩꦸ​ꦝꦸꦃ​ꦪꦪꦶ꧉
Tansah angranti tekamu, dhuh, Yayi
Selalu menantikan kedatanganmu, Kasih


ꦮꦺꦴꦁ​​ꦲꦪꦸ​ꦲꦒꦺ​ꦚꦼꦝꦏ꧀ꦏ​ꦲꦶꦁ​​ꦱꦤ꧀ꦝꦶꦁ​ꦏꦸ꧉
Wong Ayu, agé nyedhakå ing sandhingku
Gadis Cantik, mendekatlah ke sisiku

ꦚꦮꦁ​​ꦩꦤꦶꦱ꧀ꦱꦶꦁ​​ꦲꦺꦱꦼꦩ꧀ꦩꦸ꧉
Nyawang manising èsemu
Memandangi manisnya senyumanmu

ꦒꦮꦺ​ꦊꦉꦩ꧀ꦩꦺ​ꦫꦱꦏꦸ​ꦠꦼꦤ꧀ꦠꦽꦩ꧀ꦲꦶꦁꦲꦠꦶꦏꦸ꧉
Gawé leremé rasaku, tentrem ing atiku
Membuat tenang perasaanku, tenteram di hatiku

ꦲꦪ꧀ꦮ​ꦥꦼꦒꦠ꧀ꦠꦽꦱ꧀ꦤꦩꦸ​ꦱꦪꦁꦏꦸ꧉
Haywå pegat tresnamu, Sayangku
Janganlah terputus cintamu, Sayangku


ꦥꦶꦤ꧀ꦝ​ꦱꦩꦸꦢꦿ​ꦥꦱꦁ​​ꦏꦁ​​ꦠꦤ꧀ꦥ​ꦮꦔꦼꦤ꧀ꦤꦤ꧀꧉
Pindhå samudrå pasang kang tanpå wangenan
Bagaikan samudra pasang tiada akhir

ꦠꦽꦱ꧀ꦤꦏꦸ​ꦩꦿꦶꦁ​​ꦱ꧀ꦭꦶꦫꦩꦸ​ꦱꦪꦁ​꧉
Tresnaku mring sliramu, Sayang
Cintaku kepadamu, Sayang

ꦕꦲꦾꦤꦶꦁ​​ꦧꦸꦭꦤ꧀ꦏꦁ​​ꦱꦸꦩꦸꦤꦂ​ꦲꦧꦾꦺꦴꦂ​ꦲꦶꦁ​​ꦠꦮꦁ​꧉
Cahyaning mbulan kang sumunar abyor ing tawang
Cahaya rembulan yang memancar gemerlap di langit

ꦪꦼꦏ꧀ꦠꦶ​ꦱ꧀ꦭꦶꦫꦩꦸ​ꦏꦁ​​ꦢꦢꦶ​ꦭꦩꦸꦤ꧀ꦤꦤ꧀꧉
Yekti sliramu kang dadi lamunan
Sungguhlah dirimu yang menjadi lamunan


ꦮꦺꦴꦁꦲꦪꦸ꧈​ꦲꦒꦺ​ꦚꦼꦝꦏ꧀ꦏ​ꦔꦼꦏꦼꦥ꧀ꦫꦒꦏꦸ꧉
Wong Ayu, agé nyedhakå ngekep ragaku
Gadis Cantik, mendekatlah dekap badanku

ꦱꦶꦂꦤꦤ​ꦭꦫ​ꦧꦿꦤ꧀ꦠ​ꦲꦶꦁ​​ꦲꦠꦶꦏꦸ꧉
Sirnaknå lårå bråntå ing atiku
Hilangkanlah rindu yang menggebu-gebu di hatiku

ꦲꦩꦼꦂꦒ​ꦏꦧꦶꦝꦸꦁ​​ꦮꦼꦮꦪꦁ​ꦩꦸ​ꦲꦶꦁ​​ꦥꦶꦏꦶꦂꦏꦸ꧉
Amergå kabidhung wewayangmu ing pikirku
Karena dihantui bayang-bayangmu di pikiranku

ꦲꦪ꧀ꦮ​ꦥꦼꦒꦠ꧀ꦠꦽꦱ꧀ꦤꦩꦸ​ꦱꦪꦁꦏꦸ꧉
Haywå pegat tresnamu, Sayangku
Janganlah terputus cintamu, Sayangku


ꦥꦶꦤ꧀ꦝ​ꦱꦩꦸꦢꦿ​ꦥꦱꦁ​​ꦏꦁ​​ꦠꦤ꧀ꦥ​ꦮꦔꦼꦤ꧀ꦤꦤ꧀꧉
Pindhå samudrå pasang kang tanpå wangenan
Bagaikan samudra pasang tiada akhir

ꦠꦽꦱ꧀ꦤꦏꦸ​ꦩꦿꦶꦁ​​ꦱ꧀ꦭꦶꦫꦩꦸ​ꦱꦪꦁ​꧉
Tresnaku mring sliramu, Sayang
Cintaku kepadamu, Sayang

ꦕꦲꦾꦤꦶꦁ​​ꦧꦸꦭꦤ꧀ꦏꦁ​​ꦱꦸꦩꦸꦤꦂ​ꦲꦧꦾꦺꦴꦂ​ꦲꦶꦁ​​ꦠꦮꦁ​꧉
Cahyaning mbulan kang sumunar abyor ing tawang
Cahaya rembulan yang memancar gemerlap di langit

ꦪꦼꦏ꧀ꦠꦶ​ꦱ꧀ꦭꦶꦫꦩꦸ​ꦏꦁ​​ꦢꦢꦶ​ꦭꦩꦸꦤ꧀ꦤꦤ꧀꧉
Yekti sliramu kang dadi lamunan
Sungguhlah dirimu yang menjadi lamunan


ꦥꦶꦤ꧀ꦝ​ꦱꦩꦸꦢꦿ​ꦥꦱꦁ​​ꦏꦁ​​ꦠꦤ꧀ꦥ​ꦮꦔꦼꦤ꧀ꦤꦤ꧀꧉
Pindhå samudrå pasang kang tanpå wangenan
Bagaikan samudra pasang tiada akhir

ꦠꦽꦱ꧀ꦤꦏꦸ​ꦩꦿꦶꦁ​​ꦱ꧀ꦭꦶꦫꦩꦸ​ꦱꦪꦁ​꧉
Tresnaku mring sliramu, Sayang
Cintaku kepadamu, Sayang

ꦕꦲꦾꦤꦶꦁ​​ꦧꦸꦭꦤ꧀ꦏꦁ​​ꦱꦸꦩꦸꦤꦂ​ꦲꦧꦾꦺꦴꦂ​ꦲꦶꦁ​​ꦠꦮꦁ​꧉
Cahyaning mbulan kang sumunar abyor ing tawang
Cahaya rembulan yang memancar gemerlap di langit

ꦪꦼꦏ꧀ꦠꦶ​ꦱ꧀ꦭꦶꦫꦩꦸ​ꦏꦁ​​ꦢꦢꦶ​ꦭꦩꦸꦤ꧀ꦤꦤ꧀꧉
Yekti sliramu kang dadi lamunan
Sungguhlah dirimu yang menjadi lamunan

ꦪꦼꦏ꧀ꦠꦶ​ꦱ꧀ꦭꦶꦫꦩꦸ​ꦏꦁ​​ꦢꦢꦶ​ꦭꦩꦸꦤ꧀ꦤꦤ꧀꧉
Yekti sliramu kang dadi lamunan
Sungguhlah dirimu yang menjadi lamunan